KONSEP SEDEKAH DALAM ETIKA YAHUDI
Disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah: Agama Yahudi
Dosen Pengampu: Dr.
Roma Ulinnuha, M.Hum.
Disusun oleh:
Annisa Cahya Febriana
(15520038)
PROGRAM STUDI STUDI
AGAMA-AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN
PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN KALIJAGA
TAHUN AJARAN 2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Untuk meneliti
suatu agama, Ninian Smart (1976) membagi dimensi-dimensi agama menjadi tujuh.
Ketujuh dimensi tersebut antara lain adalah dimensi praktis-ritual, dimensi naratif-mitos,
dimensi pengalaman-emosional, dimensi sosial-institusional, dimensi etis-hukum,
dimensi doctrinal-filosofis, dan dimensi material. Yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah dimensi kelima, yaitu dimensi etis-hukum. Dimensi ini menyangkut
tata tertib dalam suatu agama yang diatur bersama, berupa norma dan
aturan-aturan lain, yang tidak jarang disertai dengan sistem sanksi jika
terjadi pelanggaran.
Dalam setiap
agama, terdapat etika yang kurang lebih sama dan harus ditaati oleh masing-masing
pemeluknya. Etika-etika yang wajib ditaati dalam kehidupan beragama tersebut
antara lain adalah kebaikan bagi mereka yang membutuhkan, kemurahan hati,
loyalitas, welas asih bagi mereka yang menderita, cinta damai, serta kerendahan
hati. Sama halnya seperti Islam dan agama-agama lain, Yudaisme juga memiliki
etikanya tersendiri. Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah etika Yahudi
tentang kesejahteraan lingkungan (amal), yaitu Tzedakah.
B. Rumusan
Masalah
Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.
Bagaimana
konsep sedekah dalam etika Yahudi?
2.
Apa
yang dimaksud dengan Festival Purim?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Sedekah dalam Konsep Etika Yahudi
Berbeda dengan konsep amal dalam ajaran Kristen yang
condong pada tindakan berbasis rasa kasih sayang dan kepedulian, sedekah dalam
konsep etika Yahudi lebih berupa sebuah kewajiban sosial yang harus dilakukan
secara rutin dan berkelanjutan. Istilah tzedakah
(atau zedakah) dalam bahasa Ibrani
berarti ‘kebenaran’ atau ‘kebajikan’. Kata ini mirip dengan istilah ‘zedek’, yang artinya adalah ‘keadilan’.
Dewasa ini, istilah Tzedakah hanya
digunakan untuk menyebut kegiatan amal.[1]
Dalam pandangan ini, seseorang diharuskan untuk membantu orang lain secara
rutin karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang benar. Melakukan zedakah, atau memberikan sesuatu kepada
orang lain, termasuk dalam mitzvah
dan merupakan suatu tanggung jawab yang harus dilaksanakan.[2]
Ukuran standar untuk memberikan zedakah dalam praktik keseharian Yahudi Tradisional adalah
setidaknya 10% (sepuluh persen) dari jumlah penghasilan netto. Praktik umumnya
ini disebut dengan ‘ma’aser kesafim’.
Selain itu, orang-orang Yahudi juga menyediakan kotak amal (pushka) di rumah dan tempat kerja. Zedakah diwajibkan untuk dilakukan
secara rutin tiap waktu, namun ada pula waktu-waktu yang dianggap terbaik untuk
melakukan zedakah, yakni sebelum
beribadah. Sebelum menyalakan lilin saat hari Sabbath dan hari raya, kaum
perempuan dan anak-anak perempuan diharuskan mengisi pushka.
Zedakah memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri. Maimonides,
dalam Mishnah Taurat, membagi
tingkatan zedakah ke dalam delapan
tingkatan. Dari tingkatan tertinggi ke terendah, tingkatan-tingkatan tersebut
adalah:
1.
Menolong
seseorang agar menjadi mandiri sehingga tidak lagi memerlukan bantuan amal dari
orang lain.
2.
Beramal
tanpa tahu identitas pemberi dan penerima.
3.
Pemberi
amal tahu siapa si penerima, tetapi penerima tidak tahu identitas si pemberi.
4.
Pemberi
amal tidak tahu siapa si penerima, tetapi si penerima tahu identitas si
pemberi.
5.
Memberi
secara langsung tanpa diminta.
6.
Memberi
hanya setelah diminta.
7.
Memberi
dalam jumlah yang tidak cukup, tetapi didasari niat dan semangat yang baik.
8.
Memberi
dengan tidak rela.
Contoh urutan tingkatan zedakah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
Seorang Yahudi bertemu dengan pengemis di jalan.
Pengemis tersebut meminta untuk diberikan sesuatu. Jika ia memiliki uang, orang
Yahudi tersebut berhak untuk bertanya terlebih dahulu. Jika tidak memiliki
uang, orang Yahudi tersebut bisa menunjukan sikap empati, dengan cara
memberikan ucapan yang baik dan menaikkan semangatnya. Jika tidak bisa juga
memberikan ucapan tersebut, orang Yahudi tersebut bisa tetap lanjut berjalan
meninggalkan si Pengemis.[3]
Zedakah bisa diberikan kepada orang yang membutuhkan,
sekolah-sekolah agama, lembaga Yahudi, serta lembaga-lembaga kemanusiaan.
Namun, terdapat beberapa prioritas dalam pemberian zedakah ini. Jika ada anggota keluarga yang sedang dalam kesusahan
dan membutuhkan bantuan, maka ia lebih
didahulukan untuk diberi zedakah
daripada yang bukan anggota keluarga. Begitu pula untuk orang-orang miskin dan
lembaga amal lokal; mereka lebih didahulukan untuk dijadikan penerima zedakah daripada yang serupa tetapi
terletak jauh.
Bentuk zedakah
tidak hanya berupa uang tunai langsung saja. Zedakah bisa dilakukan dengan cara menunda masa pembayaran utang,
membantu mencarikan pekerjaan, atau bahkan membawanya ikut serta dalam bisnis
keluarga. Bantuan-bantuan ini lebih dianjurkan untuk diberikan secara anonim.
Hal ini dilakukan agar orang yang dibantu tidak merasa malu karena terkesan meminta-minta.
Selain itu, untuk alasan yang sama, umat Yahudi juga dianjurkan untuk
memberikan zedakah bahkan sebelum ada
yang meminta. Zedakah akan bernilai
lebih baik lagi jika dilakukan dengan senyuman dan menunjukkan keramahan; yang
terpenting bukanlah jumlah yang diberikan, melainkan cara memberikan zedakah.
Sama halnya seperti ibadah-ibadah lain dalam agama
Yahudi, seperti berkurban dan berpuasa, terdapat beberapa tujuan seseorang
melakukan zedakah selain menuntaskan
kewajiban mitzvah. Diyakini sesuai
tradisi yang telah ada, bahwa jika zedekah dilaksanakan, maka orang tersebut
akan terhindar dari bahaya, kematian, dan penyakit. Selain itu, pemberi zedakah juga dijanjikan mendapat balasan
dari Tuhan. Di sisi lain, meskipun terdapat usaha untuk mendukung tumbuhnya perilaku
kedermawanan dan kebajikan, beberapa sumber lebih memilih menggunakan motif
yang lebih bersifat mendasar untuk mendorong pemberian zedakah. Dalam pandangan mereka, sikap tidak mementingkan diri
sendiri hanya bisa dilakukan atau dicapai oleh orang-orang tertentu saja.
Dengan mendasarkan pada prediksi tentang sifat alami manusia, lebih lumrah
untuk menjanjikan imbalan, kepastian mendapatkan perlindungan, dan menanamkan
rasa takut akan hukuman sebagai cara menggalakkan zedakah. Oleh karena itu, pada beberapa Talmud dan sumber-sumber
lain yang ditulis pada Abad Pertengahan, zedakah
dipercaya sebagai penangkal marabahaya atau pemberi perlindungan magis bagi
para pelaksananya.
2.
Festival Purim
Dalam tradisi Yahudi, terdapat berbagai festival dan
upacara keagamaan yang diadakan untuk memperingati kejadian tertentu. Salah
satunya adalah festival Purim. Purim adalah salah satu dari sekian banyak
festival dalam kalender Yahudi. Festival ini dirayakan setiap tanggal 14 bulan Adar. Adar adalah bulan ke-12 dalam kalender Ibrani, biasanya jatuh
sekitar bulan Maret di kalender Masehi. Pada tahun biasa, Adar (disebut pula Adar
II) memiliki 29 hari. Sedangkan pada tahun kabisat, Adar (disebut Adar I)
memiliki 30 hari dan ditambahkan setelah bulan Shevat.[4]
Purim jatuh pada Adar II tiap tahun
kabisat, sehingga selalu dirayakan sebulan sebelum perayaan Paskah Yahudi (Passover).[5]
Kata ‘purim’
dalam bahasa Ibrani memiliki arti ‘undian’. Hal ini merujuk pada metode yang
digunakan Haman, sosok antagonis dalam kisah dalam kitab Esther yang menjadi
latar belakang perayaan Purim, saat menentukan hari dimana ia akan melakukan
pembantaian terhadap umat Yahudi. Dikisahkan dalam kitab Esther bahwa Haman
adalah seorang penasihat Raja Persia (Raja Ahasuerus) yang arogan dan egois. Ia
membenci umat Yahudi karena Mordecai, seorang Yahudi, menolak untuk tunduk
padanya. Ia memberitahu Raja bahwa terdapat orang-orang yang hidup tersebar dan
memiliki hukum sendiri di wilayah kekuasaan Raja. Orang-orang ini, menurut
Haman, tidak tunduk pada hukum kerajaan, sehingga Raja menyerahkan nasib mereka
ke tangan Haman. Mordecai pun meminta bantuan pada Esther, sepupunya yang
diangkat menjadi ratu di kerajaan tersebut, untuk memberi tahu niat jahat Haman
kepada Raja. Setelah berpuasa selama tiga hari dalam rangka menyiapkan diri,
Esther akhirnya menghadap Raja dan membongkar niat jahat Haman terhadap bangsa
Yahudi. Orang-orang Yahudi pun akhirnya terselamatkan, dan Haman berakhir di
tiang gantungan yang sebelumnya ia persiapkan untuk Mordecai. Dengan kata lain,
Purim dirayakan sebagai peringatan akan lolosnya bangsa Yahudi yang tinggal di
Persia dari bahaya pembantaian Haman.
Purim dikenal sebagai festival yang rangkaian
perayaannya diisi dengan melakukan sedekah. Pada festival Purim, orang-orang
Yahudi dilarang untuk berpuasa. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk mengadakan
jamuan, berpesta, dan beramal. Orang-orang Yahudi biasa mengadakan festival
kostum (masquerade) pada saat
perayaan Purim. Rangkaian ibadah dalam perayaan Purim adalah sebagai berikut:
1.
Pembacaan
Megillah
Ada lima kitab yang disebut dengan istilah megillah
(gulungan), tetapi hanya kitab Esther yang biasanya dibaca pada perayaan Purim.
Pembacaan ini dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan petang. Yahudi
Ashkenazi memiliki kebiasaan untuk membuat suara bising seperti mendesis dan
menghentakkan kaki setiap nama Haman disebut dalam pembacaan.
2.
Pemberian
Mishloakh Manot
Tahapan ini dilakukan dengan cara memberikan hadiah
berupa makanan dan minuman kepada para teman dan tetangga. Makanan yang umum
dibagikan adalah hamantaschen, kue berbentuk segitiga yang secara harafiah
berarti kantong Haman. Kue ini juga memiliki nama lain Ozei Haman, yang berarti
telinga haman. Kebiasaan memakan kue ini lazimnya ditemukan pada Yahudi
Ashkenazim.
3.
Pemberian
Matanot La’evyonim
Tahapan ini dilakukan dengan memberikan hadiah pada
orang-orang yang membutuhkan dan kaum papa. Hadiah yang umum diberikan adalah
makanan atau memberi bantuan berupa uang untuk memenuhi mitzvah. Jumlah uang yang diberikan kira-kira setara dengan harga
makanan yang biasa dikonsumsi pada hari-hari biasa. Menurut halakha, setiap orang dewasa diwajibkan
memberikan dua jenis makanan yang berbeda kepada satu orang serta dua sumbangan
amal kepada dua orang miskin.
4.
Perjamuan
Purim
Disebut pula sebagai Se’udat Purim atau Purim
Se’udah. Tahapan ini sering diiringi dengan acara meminum minuman alkohol,
meskipun para tokoh agama telah memperingatkan untuk tetap taat pada aturan
agama bahkan pada saat berada dalam kondisi mabuk.
BAB III
KESIMPULAN
Sedekah (atau zedakah) dalam
konsep etika Yahudi lebih didasarkan pada kewajiban sosial daripada perbuatan
yang dilandasi rasa welas asih. Hal ini dikarenakan istilah tzedakah (atau zedakah) mirip dengan kata ‘zedek’
dalam bahasa Ibrani yang berarti ‘kebenaran’. Dalam pandangan ini, seseorang
diharuskan untuk membantu orang lain secara rutin karena hal itu dianggap
sebagai sesuatu yang benar. Ukuran standar untuk memberikan zedakah dalam praktik keseharian Yahudi
Tradisional adalah setidaknya 10% (sepuluh persen) dari jumlah penghasilan
netto. Standar ini umumnya disebut sebagai ma’aser
kesafim.
Maimonides dalam Mishnah Taurat menyebutkan delapan tingkatan zedakah. Tingkatan tertinggi adalah
dengan mendukung sesama Yahudi dengan cara memberinya hadiah atau pinjaman,
atau membuatnya menjadi seorang rekan bisnis, atau mencarikannya pekerjaan,
dalam rangka menguatkannya sampai ia bisa menjadi seseorang yang mandiri. Tingkatan
terendah, di sisi lain, adalah saat seseorang memberi zedakah dengan tidak rela.
Terdapat prioritas saat memberikan zedakah.
Anggota keluarga yang membutuhkan lebih didahulukan daripada yang bukan anggota
keluarga, begitu pula badan amal lokal lebih didahulukan daripada yang berada
jauh dari tempatnya tinggal. Diyakini sesuai tradisi yang telah ada, bahwa jika
zedekah dilaksanakan, maka orang tersebut akan terhindar dari bahaya, kematian,
dan penyakit. Pada beberapa Talmud dan sumber-sumber lain yang ditulis pada
Abad Pertengahan, zedakah dipercaya
sebagai penangkal marabahaya atau pemberi perlindungan magis bagi para
pelaksananya.
Purim adalah festival dalam kalender Yahudi untuk merayakan lolosnya
bangsa Yahudi yang tinggal di Persia dari bahaya pembantaian Haman. Pada
festival Purim, orang-orang Yahudi dilarang untuk berpuasa. Sebaliknya, mereka
diperintahkan untuk mengadakan jamuan, berpesta, dan beramal. Rangkaian ibadah
dalam perayaan ini terdiri dari empat tahapan, yaitu pembacaan Megillah, pemberian Mishloakh Manot, pemberian Matanot
La’evyonim, dan perjamuan Purim. Pada tahapan pemberian Mishloakh Manot dan Matanot La’evyonim, umat Yahudi diwajibkan untuk memberikan hadiah
dan beramal kepada lingkungan sekitar, yaitu tetangga, teman, serta orang-orang
berasal dari golongan tidak mampu. Hadiah yang diberikan bisa berupa makanan,
minuman, dan uang tunai. Jumlah uang yang diberikan setara dengan harga makanan
yang dikonsumsi pada hari-hari biasa.
DAFTAR PUSTAKA
De Lange, Nicholas. 2004. An Introduction
to Judaism. Cambridge University Press: Cambridge.
Gellman, Rabbi Marc & Hartman, Monsignor Thomas. 2002. Religion for Dummies. Wiley Publishing,
Inc.: New York.
Smart, Ninian. 1976. The Religious
Experience of Mankind. Williams Collins: Glasgow.
Sherwin, Byron L. 2000. Jewish
Ethics for the Twenty-First Century: Living in the Image of God. Syracuse
University Press: Amerika Serikat.
Anonim. Charity
Basics. http://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/2719201/jewish/Charity-Basics.htm, terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017
Anonim. Eight
Levels of Charity. http://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/823998/jewish/Eight-Levels-of-Charity.htm. terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017.
Anonim. Hebrew
Calendar. https://en.wikipedia.org/wiki/Hebrew_calendar. Terakhir diakses pada tanggal 8 Mei 2017.
Anonim. Jewish Ethics. https://en.wikipedia.org/wiki/Jewish_ethics. Terakhir diakses pada tanggal 18 Februari 2017.
Haaretz. Judaism
101, dalam Anonim. Purim. http://www.jewishvirtuallibrary.org/purim. Terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017.
[1]
Nicholas
de Lange, An Introduction to Judaism, (Cambridge: Cambridge University
Press, 2004), 194
[2]
Byron L. Sherwin, Jewish Ethics for the Twenty-First Century:
Living in the Image of God, (Amerika Serikat: Syracuse University Press,
2000), 133
[3]
Anonim, Charity Basics, http://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/2719201/jewish/Charity-Basics.htm, terakhir diakses pada tanggal 24
April 2017
[4]
Anonim, Hebrew Calendar, https://en.wikipedia.org/wiki/Hebrew_calendar, terakhir diakses pada tanggal 8
Mei 2017.
[5]
Haaretz, Judaism 101 dalam Anonim, Purim,
http://www.jewishvirtuallibrary.org/purim, diposting pada tanggal 2 Maret
2015, terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017.

No comments:
Post a Comment