2017/06/06

Konsep Sedekah dalam Etika Yahudi

KONSEP SEDEKAH DALAM ETIKA YAHUDI
Disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah: Agama Yahudi
Dosen Pengampu: Dr. Roma Ulinnuha, M.Hum.

 

Disusun oleh:
Annisa Cahya Febriana
(15520038)

PROGRAM STUDI STUDI AGAMA-AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
TAHUN AJARAN 2016/2017




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Untuk meneliti suatu agama, Ninian Smart (1976) membagi dimensi-dimensi agama menjadi tujuh. Ketujuh dimensi tersebut antara lain adalah dimensi praktis-ritual, dimensi naratif-mitos, dimensi pengalaman-emosional, dimensi sosial-institusional, dimensi etis-hukum, dimensi doctrinal-filosofis, dan dimensi material. Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah dimensi kelima, yaitu dimensi etis-hukum. Dimensi ini menyangkut tata tertib dalam suatu agama yang diatur bersama, berupa norma dan aturan-aturan lain, yang tidak jarang disertai dengan sistem sanksi jika terjadi pelanggaran.
Dalam setiap agama, terdapat etika yang kurang lebih sama dan harus ditaati oleh masing-masing pemeluknya. Etika-etika yang wajib ditaati dalam kehidupan beragama tersebut antara lain adalah kebaikan bagi mereka yang membutuhkan, kemurahan hati, loyalitas, welas asih bagi mereka yang menderita, cinta damai, serta kerendahan hati. Sama halnya seperti Islam dan agama-agama lain, Yudaisme juga memiliki etikanya tersendiri. Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah etika Yahudi tentang kesejahteraan lingkungan (amal), yaitu Tzedakah.

B.       Rumusan Masalah
Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana konsep sedekah dalam etika Yahudi?
2.      Apa yang dimaksud dengan Festival Purim?




BAB II
PEMBAHASAN

1.        Sedekah dalam Konsep Etika Yahudi
Berbeda dengan konsep amal dalam ajaran Kristen yang condong pada tindakan berbasis rasa kasih sayang dan kepedulian, sedekah dalam konsep etika Yahudi lebih berupa sebuah kewajiban sosial yang harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Istilah tzedakah (atau zedakah) dalam bahasa Ibrani berarti ‘kebenaran’ atau ‘kebajikan’. Kata ini mirip dengan istilah ‘zedek’, yang artinya adalah ‘keadilan’. Dewasa ini, istilah Tzedakah hanya digunakan untuk menyebut kegiatan amal.[1] Dalam pandangan ini, seseorang diharuskan untuk membantu orang lain secara rutin karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang benar. Melakukan zedakah, atau memberikan sesuatu kepada orang lain, termasuk dalam mitzvah dan merupakan suatu tanggung jawab yang harus dilaksanakan.[2]
Ukuran standar untuk memberikan zedakah dalam praktik keseharian Yahudi Tradisional adalah setidaknya 10% (sepuluh persen) dari jumlah penghasilan netto. Praktik umumnya ini disebut dengan ‘ma’aser kesafim’. Selain itu, orang-orang Yahudi juga menyediakan kotak amal (pushka) di rumah dan tempat kerja. Zedakah diwajibkan untuk dilakukan secara rutin tiap waktu, namun ada pula waktu-waktu yang dianggap terbaik untuk melakukan zedakah, yakni sebelum beribadah. Sebelum menyalakan lilin saat hari Sabbath dan hari raya, kaum perempuan dan anak-anak perempuan diharuskan mengisi pushka
Zedakah memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri. Maimonides, dalam Mishnah Taurat, membagi tingkatan zedakah ke dalam delapan tingkatan. Dari tingkatan tertinggi ke terendah, tingkatan-tingkatan tersebut adalah:
1.    Menolong seseorang agar menjadi mandiri sehingga tidak lagi memerlukan bantuan amal dari orang lain.
2.    Beramal tanpa tahu identitas pemberi dan penerima.
3.    Pemberi amal tahu siapa si penerima, tetapi penerima tidak tahu identitas si pemberi.
4.    Pemberi amal tidak tahu siapa si penerima, tetapi si penerima tahu identitas si pemberi.
5.    Memberi secara langsung tanpa diminta.
6.    Memberi hanya setelah diminta.
7.    Memberi dalam jumlah yang tidak cukup, tetapi didasari niat dan semangat yang baik.
8.    Memberi dengan tidak rela.
Contoh urutan tingkatan zedakah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
Seorang Yahudi bertemu dengan pengemis di jalan. Pengemis tersebut meminta untuk diberikan sesuatu. Jika ia memiliki uang, orang Yahudi tersebut berhak untuk bertanya terlebih dahulu. Jika tidak memiliki uang, orang Yahudi tersebut bisa menunjukan sikap empati, dengan cara memberikan ucapan yang baik dan menaikkan semangatnya. Jika tidak bisa juga memberikan ucapan tersebut, orang Yahudi tersebut bisa tetap lanjut berjalan meninggalkan si Pengemis.[3]
Zedakah bisa diberikan kepada orang yang membutuhkan, sekolah-sekolah agama, lembaga Yahudi, serta lembaga-lembaga kemanusiaan. Namun, terdapat beberapa prioritas dalam pemberian zedakah ini. Jika ada anggota keluarga yang sedang dalam kesusahan dan membutuhkan bantuan, maka ia  lebih didahulukan untuk diberi zedakah daripada yang bukan anggota keluarga. Begitu pula untuk orang-orang miskin dan lembaga amal lokal; mereka lebih didahulukan untuk dijadikan penerima zedakah daripada yang serupa tetapi terletak jauh.
Bentuk zedakah tidak hanya berupa uang tunai langsung saja. Zedakah bisa dilakukan dengan cara menunda masa pembayaran utang, membantu mencarikan pekerjaan, atau bahkan membawanya ikut serta dalam bisnis keluarga. Bantuan-bantuan ini lebih dianjurkan untuk diberikan secara anonim. Hal ini dilakukan agar orang yang dibantu tidak merasa malu karena terkesan meminta-minta. Selain itu, untuk alasan yang sama, umat Yahudi juga dianjurkan untuk memberikan zedakah bahkan sebelum ada yang meminta. Zedakah akan bernilai lebih baik lagi jika dilakukan dengan senyuman dan menunjukkan keramahan; yang terpenting bukanlah jumlah yang diberikan, melainkan cara memberikan zedakah.
Sama halnya seperti ibadah-ibadah lain dalam agama Yahudi, seperti berkurban dan berpuasa, terdapat beberapa tujuan seseorang melakukan zedakah selain menuntaskan kewajiban mitzvah. Diyakini sesuai tradisi yang telah ada, bahwa jika zedekah dilaksanakan, maka orang tersebut akan terhindar dari bahaya, kematian, dan penyakit. Selain itu, pemberi zedakah juga dijanjikan mendapat balasan dari Tuhan. Di sisi lain, meskipun terdapat usaha untuk mendukung tumbuhnya perilaku kedermawanan dan kebajikan, beberapa sumber lebih memilih menggunakan motif yang lebih bersifat mendasar untuk mendorong pemberian zedakah. Dalam pandangan mereka, sikap tidak mementingkan diri sendiri hanya bisa dilakukan atau dicapai oleh orang-orang tertentu saja. Dengan mendasarkan pada prediksi tentang sifat alami manusia, lebih lumrah untuk menjanjikan imbalan, kepastian mendapatkan perlindungan, dan menanamkan rasa takut akan hukuman sebagai cara menggalakkan zedakah. Oleh karena itu, pada beberapa Talmud dan sumber-sumber lain yang ditulis pada Abad Pertengahan, zedakah dipercaya sebagai penangkal marabahaya atau pemberi perlindungan magis bagi para pelaksananya.

2.        Festival Purim
Dalam tradisi Yahudi, terdapat berbagai festival dan upacara keagamaan yang diadakan untuk memperingati kejadian tertentu. Salah satunya adalah festival Purim. Purim adalah salah satu dari sekian banyak festival dalam kalender Yahudi. Festival ini dirayakan setiap tanggal 14 bulan Adar. Adar adalah bulan ke-12 dalam kalender Ibrani, biasanya jatuh sekitar bulan Maret di kalender Masehi. Pada tahun biasa, Adar (disebut pula Adar II) memiliki 29 hari. Sedangkan pada tahun kabisat, Adar (disebut Adar I) memiliki 30 hari dan ditambahkan setelah bulan Shevat.[4] Purim jatuh pada Adar II tiap tahun kabisat, sehingga selalu dirayakan sebulan sebelum perayaan Paskah Yahudi (Passover).[5]
Kata ‘purim’ dalam bahasa Ibrani memiliki arti ‘undian’. Hal ini merujuk pada metode yang digunakan Haman, sosok antagonis dalam kisah dalam kitab Esther yang menjadi latar belakang perayaan Purim, saat menentukan hari dimana ia akan melakukan pembantaian terhadap umat Yahudi. Dikisahkan dalam kitab Esther bahwa Haman adalah seorang penasihat Raja Persia (Raja Ahasuerus) yang arogan dan egois. Ia membenci umat Yahudi karena Mordecai, seorang Yahudi, menolak untuk tunduk padanya. Ia memberitahu Raja bahwa terdapat orang-orang yang hidup tersebar dan memiliki hukum sendiri di wilayah kekuasaan Raja. Orang-orang ini, menurut Haman, tidak tunduk pada hukum kerajaan, sehingga Raja menyerahkan nasib mereka ke tangan Haman. Mordecai pun meminta bantuan pada Esther, sepupunya yang diangkat menjadi ratu di kerajaan tersebut, untuk memberi tahu niat jahat Haman kepada Raja. Setelah berpuasa selama tiga hari dalam rangka menyiapkan diri, Esther akhirnya menghadap Raja dan membongkar niat jahat Haman terhadap bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi pun akhirnya terselamatkan, dan Haman berakhir di tiang gantungan yang sebelumnya ia persiapkan untuk Mordecai. Dengan kata lain, Purim dirayakan sebagai peringatan akan lolosnya bangsa Yahudi yang tinggal di Persia dari bahaya pembantaian Haman.
Purim dikenal sebagai festival yang rangkaian perayaannya diisi dengan melakukan sedekah. Pada festival Purim, orang-orang Yahudi dilarang untuk berpuasa. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk mengadakan jamuan, berpesta, dan beramal. Orang-orang Yahudi biasa mengadakan festival kostum (masquerade) pada saat perayaan Purim. Rangkaian ibadah dalam perayaan Purim adalah sebagai berikut:
1.      Pembacaan Megillah
Ada lima kitab yang disebut dengan istilah megillah (gulungan), tetapi hanya kitab Esther yang biasanya dibaca pada perayaan Purim. Pembacaan ini dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan petang. Yahudi Ashkenazi memiliki kebiasaan untuk membuat suara bising seperti mendesis dan menghentakkan kaki setiap nama Haman disebut dalam pembacaan.
2.      Pemberian Mishloakh Manot
Tahapan ini dilakukan dengan cara memberikan hadiah berupa makanan dan minuman kepada para teman dan tetangga. Makanan yang umum dibagikan adalah hamantaschen, kue berbentuk segitiga yang secara harafiah berarti kantong Haman. Kue ini juga memiliki nama lain Ozei Haman, yang berarti telinga haman. Kebiasaan memakan kue ini lazimnya ditemukan pada Yahudi Ashkenazim.
3.      Pemberian Matanot La’evyonim
Tahapan ini dilakukan dengan memberikan hadiah pada orang-orang yang membutuhkan dan kaum papa. Hadiah yang umum diberikan adalah makanan atau memberi bantuan berupa uang untuk memenuhi mitzvah. Jumlah uang yang diberikan kira-kira setara dengan harga makanan yang biasa dikonsumsi pada hari-hari biasa. Menurut halakha, setiap orang dewasa diwajibkan memberikan dua jenis makanan yang berbeda kepada satu orang serta dua sumbangan amal kepada dua orang miskin.
4.      Perjamuan Purim
Disebut pula sebagai Se’udat Purim atau Purim Se’udah. Tahapan ini sering diiringi dengan acara meminum minuman alkohol, meskipun para tokoh agama telah memperingatkan untuk tetap taat pada aturan agama bahkan pada saat berada dalam kondisi mabuk.



BAB III
KESIMPULAN

Sedekah (atau zedakah) dalam konsep etika Yahudi lebih didasarkan pada kewajiban sosial daripada perbuatan yang dilandasi rasa welas asih. Hal ini dikarenakan istilah tzedakah (atau zedakah) mirip dengan kata ‘zedek’ dalam bahasa Ibrani yang berarti ‘kebenaran’. Dalam pandangan ini, seseorang diharuskan untuk membantu orang lain secara rutin karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang benar. Ukuran standar untuk memberikan zedakah dalam praktik keseharian Yahudi Tradisional adalah setidaknya 10% (sepuluh persen) dari jumlah penghasilan netto. Standar ini umumnya disebut sebagai ma’aser kesafim.
Maimonides dalam Mishnah Taurat menyebutkan delapan tingkatan zedakah. Tingkatan tertinggi adalah dengan mendukung sesama Yahudi dengan cara memberinya hadiah atau pinjaman, atau membuatnya menjadi seorang rekan bisnis, atau mencarikannya pekerjaan, dalam rangka menguatkannya sampai ia bisa menjadi seseorang yang mandiri. Tingkatan terendah, di sisi lain, adalah saat seseorang memberi zedakah dengan tidak rela.
Terdapat prioritas saat memberikan zedakah. Anggota keluarga yang membutuhkan lebih didahulukan daripada yang bukan anggota keluarga, begitu pula badan amal lokal lebih didahulukan daripada yang berada jauh dari tempatnya tinggal. Diyakini sesuai tradisi yang telah ada, bahwa jika zedekah dilaksanakan, maka orang tersebut akan terhindar dari bahaya, kematian, dan penyakit. Pada beberapa Talmud dan sumber-sumber lain yang ditulis pada Abad Pertengahan, zedakah dipercaya sebagai penangkal marabahaya atau pemberi perlindungan magis bagi para pelaksananya.
Purim adalah festival dalam kalender Yahudi untuk merayakan lolosnya bangsa Yahudi yang tinggal di Persia dari bahaya pembantaian Haman. Pada festival Purim, orang-orang Yahudi dilarang untuk berpuasa. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk mengadakan jamuan, berpesta, dan beramal. Rangkaian ibadah dalam perayaan ini terdiri dari empat tahapan, yaitu pembacaan Megillah, pemberian Mishloakh Manot, pemberian Matanot La’evyonim, dan perjamuan Purim. Pada tahapan pemberian Mishloakh Manot dan Matanot La’evyonim, umat Yahudi diwajibkan untuk memberikan hadiah dan beramal kepada lingkungan sekitar, yaitu tetangga, teman, serta orang-orang berasal dari golongan tidak mampu. Hadiah yang diberikan bisa berupa makanan, minuman, dan uang tunai. Jumlah uang yang diberikan setara dengan harga makanan yang dikonsumsi pada hari-hari biasa.



DAFTAR PUSTAKA

De Lange, Nicholas. 2004. An Introduction to Judaism. Cambridge University Press: Cambridge.
Gellman, Rabbi Marc & Hartman, Monsignor Thomas. 2002. Religion for Dummies. Wiley Publishing, Inc.: New York.
Smart, Ninian. 1976. The Religious Experience of Mankind. Williams Collins: Glasgow.
Sherwin, Byron L. 2000. Jewish Ethics for the Twenty-First Century: Living in the Image of God. Syracuse University Press: Amerika Serikat.
Anonim. Charity Basics. http://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/2719201/jewish/Charity-Basics.htm, terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017
Anonim. Eight Levels of Charity. http://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/823998/jewish/Eight-Levels-of-Charity.htm. terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017.
Anonim. Hebrew Calendar. https://en.wikipedia.org/wiki/Hebrew_calendar. Terakhir diakses pada tanggal 8 Mei 2017.
Anonim. Jewish Ethics. https://en.wikipedia.org/wiki/Jewish_ethics. Terakhir diakses pada tanggal 18 Februari 2017.
Anonim. Purim. https://en.wikipedia.org/wiki/Purim. Terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017.
Haaretz. Judaism 101, dalam Anonim. Purim. http://www.jewishvirtuallibrary.org/purim. Terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017.




[1] Nicholas de Lange, An Introduction to Judaism, (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 194
[2] Byron L. Sherwin, Jewish Ethics for the Twenty-First Century: Living in the Image of God, (Amerika Serikat: Syracuse University Press, 2000), 133
[3] Anonim, Charity Basics, http://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/2719201/jewish/Charity-Basics.htm, terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017
[4] Anonim, Hebrew Calendar, https://en.wikipedia.org/wiki/Hebrew_calendar, terakhir diakses pada tanggal 8 Mei 2017.
[5] Haaretz, Judaism 101 dalam Anonim, Purim, http://www.jewishvirtuallibrary.org/purim, diposting pada tanggal 2 Maret 2015, terakhir diakses pada tanggal 24 April 2017.

No comments:

Post a Comment