2016/04/28

Fanfiction

Selamat pagi/siang/sore/malam kapanpun artikel ini dibaca (owo)/

Sebelum lanjut ke topik bahasan kali ini, numpang tanya sebentar—ada yang hobi menulis? Hobi membaca novel, komik, atau nonton film? Ada yang sering enggak puas sama ending atau jalan ceritanya, terus misuh-misuh sendiri sambil lanjut baca/nonton sampai akhir? Terakhir, ada yang tahu soal fanfiction, fanfic, fanfiksi, atau apapun istilahnya?

Kalau belum ada, mari lanjut ke topiknya~

(Kalau ada yang sudah tahu ya, silakan lanjut ke artikel berikutnya—atau kalau beneran senggang dan udah tahu soal fanfiksi, lanjut baca ya enggak dilarang)



 Jadi, fanfiksi.

Fanfiction, fanfic, fanfiksi, fanfik, atau apapun istilahnya di berbagai tempat merujuk ke suatu cerita fiksi (kadang-kadang diangkat dari kisah nyata, tergantung imajinasi penulis dan preferensinya) yang dibuat oleh penggemar berdasarkan kisah, karakter, atau latar yang sudah ada. Istilah ini berlaku untuk berbagai macam media, mulai dari komik (manga, manhwa, manhua, webtoon, apapun itu sinonimnya) film, novel, game, sampai selebriti dunia nyata. Singkat kata, fanfiksi adalah ‘jalan keluar’ atau media berekspresi bagi mereka yang tidak puas dengan kisah aslinya atau punya imajinasi aktif. Contohnya, ada karakter favorit di film yang berakhir mati di canon*-nya (bagi saya sendiri, Ea dan Landkarte dari komik 07-Ghost #gagalmoveon). Karena enggak rela kalau karakter kesayangan mati dan punya imajinasi alternatif apa yang akan terjadi kalau karakter itu tetap hidup, si penggemar bisa menulis fanfiksi dan mempostingnya di blog atau tempat-tempat lain. Tentunya dia juga harus menuliskan disclaimer di postingannya; disclaimer adalah suatu pernyataan bahwa mereka bukan pemilik asli media yang digunakan untuk menulis fanfiksi (misal: Harry Potter punyanya J.K. Rowling; Naruto punyanya Masashi Kishimoto; Karakter yang dipakai di fanfiksi ini bukan punya saya).

Dan ngomong-omong, enggak semua penulis memperbolehkan karyanya dibuatkan fanfiksi lho ya. Untuk info lebih lanjut, silakan mampir ke sini (warning: bahasa Inggris. Jangan pakai google translate kalau enggak ngerti, usahakan pakai kamus dulu buat sekalian belajar bahasa Inggris).

Lanjut ke bahasan berikutnya.

Dalam menulis fanfiksi, seseorang harus memperhatikan rating konten yang akan ia posting. Masing-masing tempat yang biasa digunakan untuk memposting fanfiksi punya kebijakan sendiri. Fanfiction.net menggunakan jangkauan rating K-M, sedangkan AO3 jangkauannya dari General Audiences-Explicit. Di luar dua situs itu, saya kurang tahu pakai rating apa—tapi kalau rujukannya Om Wikipedia, pakai standar MPAA (G sampai NC-17). Penjabarannya bisa dilihat di tabel ini:

FFn
AO3
MPAA
Keterangan
K
General Audiences
G
Untuk semua umur.
K+
-
PG
Beberapa hal mungkin tidak sesuai untuk anak-anak.
T
Teen and Up Audiences
PG-13
Beberapa hal mungkin tidak sesuai untuk anak di bawah 13 tahun.
M
Mature
R
Usia di bawah 17 tahun perlu pendampingan orang tua (atau usia legal dianggap dewasa)
MA
Explicit
NC-17
Umur kurang dari 17 tahun dilarang. Berisi konten yang sangat eksplisit, tidak pantas dibaca yang di bawah umur.
Catatan: Rating MA sudah tidak diperbolehkan di FFn. Yang ingin memposting konten eksplisit, silakan melipir ke AO3 atau situs lain yang memperbolehkan.

Selain rating, yang perlu diperhatikan dalam menulis/membaca fanfiksi adalah genre-nya. Iya, genre-nya. Kalau ingin mencari yang fluff* atau yang punya plot ringan, berpotensi membuat gigi ngilu saking manisnya, jangan pernah coba-coba mencari di kategori angst atau tragedy. Bagi pembaca sensitif uhukkayaksayauhuk dua genre itu lebih mengerikan daripada genre horor. Seriusan.

Kembali ke topik.

Setelah genre, ada lagi tentang panjang fanfiksi. Dikutip dari Om Wikipedia (lagi), pembagian panjang fanfiksi (dengan sedikit modifikasi) ada:
Istilah (dalam Fanfiksi)
Istilah (Umum)
Keterangan
Drabble
-
Jumlah kata sekitar 100-200. Meskipun tidak tepat 100-200 kata, drabble sangat pendek.
Ficlet
-
Lebih panjang dari drabble; jumlah kata sekitar 500-900.
Oneshot
Cerpen
Jumlah kata 2000-3000 kata (ada juga kasus spesial a.k.a author yang punya kemampuan dewa bisa menulis lebih dari 5000 kata) dan hanya terdiri dari satu chapter (langsung tamat).
Two-shot
-
Fanfiksi yang terdiri dari dua chapter.
Short Story
Cerbung
Bersambung, tapi jumlah chapternya lebih sedikit dari Chaptered/Series Fic. Kadang-kadang bisa berupa kumpulan fic yang saling tidak berhubungan (antologi?)
Multichapter/Chaptered/Series Fic
Cerbung; Novel
Fiksi bersambung; jumlah kata seperti novel. Punya banyak chapter, konflik bisa lebih dari satu.

Setelah masalah panjang kata, ada pula masalah warning alias peringatan. Biasanya dicantumkan di bagian summary, tapi kalau sudah ada fitur tagging seperti di AO3, bisa dicantumkan di sana. Contoh warning misalnya Chara Death (Character/s death; kematian salah satu karakternya), dark fic (temanya berat), OOC (Out of Character; karakter di fanfiksi itu di luar sifat aslinya), dan OC (Original Character; menyelipkan karakter orisinil buatan si penulis fanfiksi sendiri). Di bagian akhir juga biasanya dicantumkan—terutama di fandom yang ramai seperti fandom Naruto—‘Don’t Like Don’t Read’ (Jangan baca kalau enggak suka), kadang-kadang ditambah dengan ‘Don’t Review’ (jangan mereview) untuk menghindari ‘flame’ atau ‘perang’ di kotak reviewnya. Untuk masalah DLDR kuadrat ini, penyebab lebih lanjutnya akan dibahas di bagian berikutnya. Sabar ya. /plak

Uhuk. Mungkin sampai di sini dulu bahasan tentang fanfiksinya. Masih ada lanjutannya, yang untuk alasan tertentu dipisah dari sini. Akhir kata, maaf kalau ada salah kata, penjelasan yang kurang jelas atau bahkan menyesatkan, dan kalimat yang campur aduk antara bahasa formal sama bahasa sehari-hari. Sampai ketemu lagi di bagian keduanya~ *setel Sanagara Byebye* /salah

Sumber:

Note:

No comments:

Post a Comment